بسم الله
الرحمن الرحيم
Ditulis oleh: Abu Aisyah
Asnur bin Badruddin -semoga Allah ta’ala mengampuninya-
29 Sya’ban 1432H, di Manukan, Surabaya
إن الحمد لله نستعينه ونستغفره ونعوذ
بالله من شرور أنفسنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل الله فلا هادي
له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده
ورسوله أما بعد:
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang
penuh segala kebaikan, keberkahan dan rahmat serta pengampunan yang
insyallah sebentar lagi kita akan memasukinya dan semoga di kesempatan
Ramadhan kali ini kita bisa lebih baik dari Ramadhan yang lalu berupa
pengamalan ketaataan baik lisan maupun hati dan anggota tubuh karena
semakin datang bulan yang suci ini maka semakin berkurang pula
kesempatan untuk bisa meraihnya karena bertambahnya umur yang mana itu
akan mempengaruhi fisik,tenaga dan pandangan serta semangat sehingga
oleh karena itu kita banyak berdoa semoga Allah ta’ala memberkahi kita
di Ramadhan ini supaya kita mengakhirinya dengan mendapatkan
pengampunan,rahmat dan kebaikan serta yang pahala yang berlipat ganda
terkhusus dimalam yang lebih baik dari 1000 bulan.
Saya menulis artikel yang sederhana ini
tentang bulan Ramadhan dan amalan yang ada didalamnya karena pada hari
Kamis 26 Sya’ban 1432H ada ikhwah yang meminta kepada saya untuk menulis
malzamah yang berkaitan dengan Ramadhan dan kaifiyat ibadah didalamnya
sebab ada yang mempertanyakan apa dalilnya sholat tarawih
ditengah malam? Apa ada salafnya? Atau yang semisal dengan itu
padahal yang sebenarnya inilah yang sunnah dan waktu yang paling afdhol
dalam melakukan amalan tersebut sebagaimana nanti akan datang
perinciannya dan penjelasannya,
Pada awalnya saya agak berat karena
waktu yang sangat sempit karena padatnya waktu dipondok apalagi sekarang
santri lagi ujian hafalan.. tapi melihat perlunya untuk menyebarkan
ilmu khususnya yang berkaitan dengan bulan Ramadhan yang mana banyak
dari kalangan kaum muslimin belum mengetahuinya dengan baik tentang
keutamaan yang ada didalamnya serta amalan-amalannya sehingga tidak
sedikit yang melakukan yang mafdhul (tidak afdhol) dan meninggalkan yang
afdhol padahal ini suatu kerugian yang sangat besar bahkan ini adalah
salah satu dari makar syeithan untuk menjauhkan manusia dari ketaqwaan.
Maka saya menulis artikel ini dengan –
seraya meminta pertolongan kepada Allah ta’ala – mengumpulkan dan
menukilkan perkataan ahlu ilmi yang berlandaskan Al Quran dan sunnah
supaya lebih mantap dan yakin dalam beramal khususnya yang berkaitan
dengan Ramadhan sehingga kita terjauhkan sikap taqlid / ikut-ikutan
dalam memegang agama ini dan tidak mudah bimbang dan goyang karena
berbedanya amalan yang kita lakukan dari keumuman tapi kalau kita
punya ilmu terhadap amalan yang kita lakukan insyallah akan tsabat
dan kokoh karena semuanya adalah dalil dan ilmu, inilah bimbingan
ulama-ulama kita yang terdahulu (para salaf).
Dan hanya kepada Allah ta’ala saya
meminta untuk menjadikan tulisan ini bermanfaat bagi setiap yang
membacanya atau mendengarnya atau melihat didalamnya, dan semoga Dia
menerimanya dariku dengan penerimaan yang baik dan menjadikan amalan
ini sebagai sebab untuk meraih ridhonya, sesungguhnya Dia mampu
terhadap segala sesuatu alhamdulillahi Rabbil alamin dan
shalawat dan salaam atas Nabi kita Muhammad shollallahu alaihi was
sallam dan keluarganya dan sahabatnya semuanya radhiyallahu anhum
ajma’in.
Pembahasan yang pertama :
pengertian puasa
- Puasa secara bahasa adalah : al-imsak dan at-tarku yakni menahan
dan meninggalkan
Dalilnya firman Allah ta’ala yang
mengabarkan tentang Maryam :
فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ
صَوْماً فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنسِيّاً
Maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah
bernadzar kepada Rahman untuk menahan (berpuasa) maka aku tidak
akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”.
(QS.Maryam:26)
2. Adapun secara syariat/istilah yaitu : menahan diri dari
makan dan minum dan jima’/bersetubuh serta selainnya dari hal-hal
yang membatalkannya, semenjak terbitnya fajar shodiq (*) sampai
dengan terbenamnya matahari dengan niat untuk taqarrub kepada Allah
ta’ala.
Dan sebagian mengartikan : menahan
diri secara khusus di waktu yang khusus dari sesuatu yang khusus
dengan syarat-syarat yang khusus pula.
Pembahasan yang kedua :
puasa terbagi menjadi 2 bagian:
- Mustahab seperti puasa arafah dan 3 hari setiap bulan dan yang
semisalnya dari perkara yang mustahab
- Yang wajib dan ini terbagi menjadi 3 bagian :
- Apa yang wajib karena waktunya seperti puasa
dibulan Ramadhan (ini maksud dari penulisan pembahasan kita sekarang)
- Apa yang wajib karena sebab seperti puasa kafarah
dan denda bagi siapa yang membunuh buruan dalam keadaan ihram/haji.
- Apa yang seorang hamba mewajibkan dirinya yakni
puasa nadzar.
Pembahasan yang ketiga :
puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun dari rukun islam
Sebagaimana ini ditunjukkan oleh Al Quran dan sunnah serta
ijma/kesepakatan para ulama
1. Adapun dalam Al Quran firman Allah ta’ala dalam surah Al Baqarah :
185
﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ
فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى
وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ﴾،
2. Dan adapun dalam sunnah
فحديث ابن عمر ب: «بني الإسلام على
خمس:… وصيام شهر رمضان »
3. Dan adapun ijma
adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullahu
ta’ala : dan hukum ini yang telah disebutkan bahwa keberadaan puasa
Ramadhan adalah rukun dan kewajiban merupakan suatu kesepakatan yang
mana Al Quran dan sunnah serta ijma menunjukkan demikian. Dan demikian
Ibnu Abdil Baar rahimahullahu ta’ala menukilkan ijma.
Pembahasan yang keempat :
waktu diwajibkannya puasa Ramadhan
Berkata Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala
: Rasulullah shallallahu alaihi was sallam berpuasa ramadhan selama
9 tahun sebab Ramadhan diwajibkan hukumnya pada bulan sya’ban tahun 2
hijriyah, dan Rasul shallallahu alaihi was sallam wafat pada bulan
Rabi’ul Awal tahun 11 Hijriyah.
Berkata Syaikh Al Bassam
rahimahullahu ta’ala : Ramadhan diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun 2
Hijriyah kemudian Rasul shallallahu alaihi was sallam berpuasa 9
kali Ramadhan,ini merupakan kesepakatan.
Pembahasan yang kelima :
kepada siapa diwajibkan Ramadhan
Kewajiban Ramadhan ditujukan kepada
setiap muslim yang baligh, berakal, bersih dan mampu serta mukim/bukan
musafir.
- Maksud muslim adalah : bukan kafir baik itu secara asal atau murtad.
- Maksud baligh adalah : bukan anak kecil namun bagi walinya/orang
tuanya untuk memerintahkan anak tersebut berpuasa jika dia mampu
sebagai latihan.
- Maksud berakal adalah : bukan gila/tidak waras, dalil dari point ini
dan sebelumnya adalah :
حديث علي عند أبي داود أن النبي قال رفع
القلم عن ثلاثة عن المجنون حتى يبرأ وعن النائم حتى يستيقظ وعن الصبي حتى
يعقل
Dari Ali bin Abi Tholib radhiyallahu
anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wassallam bersabda : “terangkat
pena bagi 3 golongan, dari orang gila sampai waras dan dari orang
tidur sampai bangun dan dari anak kecil sampai baligh”. (riwayat Abu
Daud)
- Maksud suci adalah tidak haid dan nifas (bagi wanita) akan tetapi
wajib untuk mengqodhonya.
- Maksud dari mampu adalah orang tua yang sudah lemah dan semisal dia
seperti sakit yang kecil harapannya untuk sembuh lagi.
- Maksud dari muqim adalah bukan musafir.
Pembahasan yang keenam :
keutamaan bulan Ramadhan
Ikhwani fillah barakallahu fiikum
sesungguhnya bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan merupakan
suatu kenikmatan yang sangat besar sekali diantara kenikmatakan Allah
ta’ala yang Dia berikan kepada hamba-Nya dari kalangan kaum mukminin
sehingga oleh karena itu suatu kebahagiaan dan keberuntungan yang
sangat besar bagi siapa saja yang bersemangat dan bersungguh-sungguh
dibulan tersebut yang Mubarak dengan mengisi hari-harinya dengan
qiyamul lail dan bersedekah dan silahturahmi dan qiroatul quran dan
selainnya dari macam ibadah dan amalan sholeh.
Maka dalam kesempatan ini kami akan
menyebutkan keutamaan bulan ini dan berpuasa didalamnya :
1. Merupakan sebab diampuni
dosa-dosa
فعن أبي هريرة رضي الله عنه قال
يقول الرسول صلى الله عليه وسلم “رغم أنف رجل دخل
عليه رمضان ثم انسلخ قبل أن يُغفر له, ورغم أنف رجل أدرك عنده أبواه
الكبر فلم يدخلاه الجنة” (رواه الترمذي وصححه الألباني في صحيح الجامع
3510).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu :
Rasul shallallahu alaihi was sallam bersabda : “celaka bagi
seseorang yang Ramadhan mendatanginya kemudian pergi sebelum dia
diampuni” (riwayat At Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh Albani
rahimahullahu ta’ala dalam shohih jami’ no : 3510).
وعنه قال رسول الله (صلى الله عليه
وسلم) ” ومن صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“
( أخرجه البخاري 3/59 ومسلم
1/524 رقم 175 ).
Dan darinya : Rasul shallallahu
alaihi was sallam bersabda : “Dan siapa yang berpuasa Ramadhan dengan
keimanan dan pengharapan maka diampuni dosanya yang telah lewat”.
(riwayat Bukhori dan Muslim)
Maksud dengan keimanan adalah
beriman kepada Allah ta’ala dan ridho dengan kewajiban puasa
tersebut serta mengharapkan pahala dari-Nya maka sesungguhnya Allah
ta’ala akan mengampuninya dari dosanya yang telah lewat.
وفي صحيح مسلم ( 233 )
عن أبي هريرة رضي الله عنه أيضاً أن النبي (صلى الله
عليه وسلم) قال : ” الصلوات الخمس والجمعة إلي الجمعة ورمضان إلي رمضان
مكفرات ما بينهن إذا اجتنبت الكبائر “.
Dalam shohih muslim darinya pula
bahwa Nabi shallallahu alaihi was sallam bersabda : antara sholat 5
waktu dan diantara 2 Jumat dan antara Ramadhan ke Ramadhan yang
berikutnya merupakan pelebur dosa-dosa jika dosa-dosa besar dijauhi.
2. Merupakan wasilah untuk
mendapatkan derajat ketaqwaan
َيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ
قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)
Berkata Imam Syaukani rahimahullahu
ta’ala dalam tafsirnya : { لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ }pasti
kalian bertaqwa yakni dengan senantiasa kalian menjaga kewajiban
puasa, dan dikatakan maknanya : kalian akan terjaga dari melakukan
maksiat dengan sebab ibadah ini karena itu mengurangi syahwat dan
melemahkan dorongan untuk bermaksiat sebagaimana tersebutkan dalam
riwayat bahwa puasa itu benteng dan bahwa itu adalah penghalang.
3. Adalah bulan yang penuh
rahmat dan kesempatan yang sangat besar untuk mendapatkan kebaikan
yang sangat banyak karena terbukanya pintu langit dan surga serta
ditutupnya pintu neraka
عن أبي هريرة رضي الله عنه
قال، قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم ) ( أتاكم رمضان شهر مبارك فرض
الله عز وجل عليكم صيامه تفتح فيه أبواب السماء وتغلق فيه أبواب الجحيم
وتغل فيه مردة الشياطين لله فيه ليلة خير من ألف شهر من حرم خيرها فقد
حرم ) (صحيح رواه أحمد 9/225 ( الفتح الرباني ) والنسائي 4/129
وصححه الألباني في الترغيب 1/490).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu
:Rasulullah shallalllahu alaihi was sallam bersabda : bulan Ramadhan
yang Mubarak telah tiba, Allah azza wa jalla mewajibkan kepada kalian
untuk berpuasa, dibulan tersebut dibuka pintu-pintu langit dan
ditutup pintu-pintu neraka serta dibelenggu para syetan, didalamnya
ada suata malam yang lebih baik dari 1000 bulan, maka siapa yang
diharamkan dari kebaikannya maka sungguh dia orang yang terhalangi
(dari kebaikan malam tersebut).(shohih riwayat Ahmad dan An Nasai dan
dishohihkan oleh Albani rahimahullahu ta’ala dalam targhib)
Maka dalam hadits ini merupakan kabar
gembira dari Rasulullah shallallahu alaihi was sallam kepada hamba
Allah ta’ala yang sholeh dengan datangnya bulan Ramadhan yang Mubarak
sebab Nabi shollallahu alaihi was sallam mengabarkan kepada para
sahabatnya bukan sekedar pengabaran biasa bahkan maknanya : kabar
gembira bagi kalian dengan datangnya bulan tersebut yang agung yang
Allah ta’ala takdirkan bagi hamba-Nya yang sholeh meraih apa yang
telah dipersiapkan disisi-Nya berupa pengampunan dan keridhoaan maka
siapa yang terhalangi dari pengampunan dibulan Ramadhan maka sungguh
dia terharamkan dari suatu keutamaan yang besar.
وعن أبي هريرة رضي الله عنه
قال، قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : ( إذا دخل شهر رمضان فتحت
أبواب السماء وفي رواية ( أبواب الجنة ) وفي رواية ( أبواب الرحمة )
وغلقت أبواب جنهم وسلسلت الشياطين ) ” أخرج البخاري 4/112 ومسلم 1079″.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu :
Rasul shallallahu alaihi was sallam bersabda : jika masuk bulan
Ramadhan maka dibuka pintu-pintu langit (dan riwayat lain :
pintu-pintu surga) (dan riwayat : pintu-pintu rahmat ) dan ditutup
pintu-pintu jahannam dan dibelenggu para syeitan. Muttafaqun alaihi.
وعن أبي هريرة رضي الله عنه
قال، قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) ( إذا كان أول ليلة من شهر
رمضان صفدت الشياطين ومردة الجن وغُلقت أبواب النيران فلم يفتح منها باب
وفتحت أبواب الجنة فلم يغلق منها باب وينادي مناد يا باغي الخير أقبل
ويا باغي الشر أقصر ولله عتقاء من النار وذلك كل ليلة ) ” رواه الترمذي
3/359 وابن ماجة 1642 وهو حسن”.
Dan darinya Rasul shallallahu alaihi
was sallam bersabda : “jika awal malam dibulan Ramadhan maka
dibelenggu para syeitan dan jin dan ditutup pintu neraka sehingga
tidak satupun yang terbuka dan dibuka pintu surga sehingga tidak ada
satupun yang tertutup kemudian ada seruan berkata : wahai yang
menginginkan kebaikan perbanyaklah dan wahai yang menginginkan
kejelekan kurangilah, dan Allah ta’ala akan membebaskan dari neraka
(dari hamba-hambaNya) dan itu disetiap malam (bulan Ramadhan)”.
(riwayat At Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Maka cukuplah dengan apa yang telah
disebutkan diatas tentang kemuliaan dan keutamaan bulan yang Mubarak
ini sehingga kaum muslimin mempersiapkan diri mereka untun sibuk
dengan berpuasa dan tilawatul quran dan dzikrullah serta qiyamul lail
dan lainnya dari amalan sholeh.
Semoga Allah ta’ala
menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang diberikan kebaikan bulan yang
Mubarak ini dan membebaskan kita dari neraka dan memasukkan kita
kedalam rahmat dan surga-Nya..sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha
mengambulkan doa hamba-Nya.Amiin….
Pembahasan yang ketujuh :
Adab-adab dalam puasa yang wajib
Ketahuilah wahai ikhwani fiddiin
bahwa puasa memiliki adab-adab sebagaimana yang dijelaskan oleh ahlu
ilmi dan adab ini sangat banyak yang tidak akan sempurna puasa
tersebut kecuali dengannya Dan tidak akan bernilai disisi Allah
kecuali dengan melakukan adab tersebut.
Dan adab ini terbagi menjadi 2 bagian:
- Adab yang wajib yang harus bagi yang berpuasa untuk menunaikannya
serta menjaganya
- Adab yang mustahab yang sepantasnya ditunaikan dan dijaga hal
tersebut.
Dan dari perkara adab yang
wajib adalah melaksanakan apa yang wajibkan kepadanya dari
perkara ibadah baik berupa perkataan maupun perbuatan, dan diantara
yang wajib yang paling penting adalah sholat 5 waktu yang mana itu
adalah salah satu rukun Islam sehingga wajib untuk menunaikannya dan
menjaganya dengan melaksanakan rukun dan syarat serta kewajiban dalam
sholat tersebut maka dia melaksanakannya ditepat waktunya dengan
berjamaah dimesjid bagi laki-laki karena yang demikian ini merupakan
suatu ketaqwaan yang dengannya disyareatkan puasa dan diwajibkan
kepada umat ini.
Dan diantara yang berpuasa ada yang
meremehkan sholat berjamaah padahal itu adalah suatu kewajiban.
Dan diantara yang berpuasa ada yang
melampaui batas dari kewajiban perintah ibadah ini dengan dia tidur
dari menunaikannya pada tepat waktunya, maka sungguh ini suatu
kemungkaran yang sangat besar dan sebab tersebar dalam menelantarkan
amalan ibadah yang agung ini, sampai kebanyakan ulama mengatakan :
bahwa siapa yang mengakhirkan sholat dari waktunya tanpa udzur syar’i
tidak akan diterima meskipun dia sholat 100 kali dengan dalil sabda
Rasul shallallahu alaihi was sallam
« من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو
رد »
Siapa yang melakukan amalan yang
bukan dari perkara kami maka dia tertolak..demikian yang dikatakan
oleh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ta’ala.
Dan diantara adab yang wajib orang
berpuasa menjauhi segala apa yang diharamkan oleh Allah ta’ala dan
RasulNya berupa perkataan dan perbuataan, maka dia menjauhi dari
berdusta yaitu : pengabaran terhadap sesuatu yang tidak sesuai yang
sebenarnya, dan sebesar-besarnya kedustaan adalah kepada Allah ta’ala
dan Rasul-Nya seperti menisbatkan kepada Allah ta’ala dan kepada
Rasul-Nya halalnya dari suatu yang haram dan pngharaman dari suatu
yang halal.
Dia menjauhi ghibah yaitu:
menyebutkan tentang saudaramu yang tidak berada ditempat dengan apa
yang dai tidak sukai entah penyebutanmu tentang tubuhnya seperti
pincang atau buta atau tuli dengan tujuan mengejek / merendahkan,
atau penyebutanmu tentang kepribadiannya seperti kebodohannya atau
semisalnya sama saja hal tersebut ada pada dirinya ataukah tidak ada.
Dan dia menjauhi namimah yaitu :
menukilkan perkataan seseorang kepada yang lainnya dengan tujuan
untuk kerusakan (bukan untuk memperbaiki) dan ini adalah dosa besar
sebagaimana dalam banyak riwayat bahwa pelaku namimah tidak akan
masuk kedalam surga.
Dan dia menjauhi kecurangan disemua
muamalahnya dalam berjual beli dan perdagangan dan bisnisnya serta
menjauhi hal itu dalam setiap nasehat atau musyawarahnya karena
kecurangan merupakan dosa besar sebagaimana yang disebutkan oleh
ahli ilmi bahkan Rasul shallallahu alaihi was sallam berlepas diri
dari para pelaku dosa ini seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori dan
Muslim.
Dan dia menjauhi musik-musik dan
alat-alatnya dengan segala bentuknya seperti gendang atau gitar atau
piano atau drum atau yang semisalnya karena semua itu adalah haram
dan semakin bertambah keharamannya dan dosanya jika digandengkan
dengan nyanyian dan suara yang indah serta sang penyanyi yang
menggoda.
Dan dari perkara adab yang
mustahab adalah :
Diantaranya sahur yakni
: makan diakhir malam sebelum terbit fajar shodiq sebagaimana dalam
hadits
«
تسَحَّروا فإن في السحور بركة » (1)
“Bersahurlah kalian karena dalam
sahur ada keberkahan.” Muttafaqun alaihi.
، وعن عمرو بن العاص رضي الله عنه
أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : « فصل ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب
أكْلة السحر » (2)
“Perbedaan antara puasa
kita dengan ahlu kitab adalah dengan makan sahur.” (riwayat Muslim dari
Amr bin Ash radhiyallahu anhu)
، وأثنى صلى الله عليه وسلم على
سحور التمر فقال : « نِعْمَ سحور المؤمن التمر » (3)
Dan Rasul shallallahu alaihi was
sallam memuji bersahur dengan kurma :”sebaik-baik sahurnya seorang
mukmin adalah kurma.” (riwayat Abu Daud dengan sanad yang hasan)
، وقال صلى الله عليه وسلم : «
السحور كله بركة فلا تَدَعوه ولو أن يجرع أحدكم جرعة من ماء فإن الله
وملائكته يُصَلُّون على المتسحرين » (4) .
Dan Rasul shallallahu alaihi was
sallam bersabda : “sahur semuanya adalah keberkahan sehingga jangan
kalian meninggalkannya meskipun kalian hanya meneguk segelas air
karena sesungguhnya Allah ta’ala dan para malaikat memberikan
shalawat kepada orang yang bersahur..” (riwayat Ahmad dan berkata
Mundziri : sanadnya kuat dan paragrafh yang pertama dari hadits ini
ada penguatnya di shohihain)
(1) متفق عليه .
(2) رواه مسلم .
(3) رواه أبو داود وإسناده حسن
وله شواهد يصل بها إلى درجة الصحة .
(4) رواه أحمد ، وقال المنذري :
إسناده قوي ، والجملة الأولى منه لها شاهد في الصحيحين .
Dan diantaranya yaitu : mempercepat
berbuka jika sudah yakin terbenamnya matahari dengan persaksian atau
dugaan yang besar atas terbenamnya dengan adanya kabar yang
terpercaya melalui adzan atau selainnya sabagaimana dalam riwayat :
فعن سهل بن سعد رضي الله عنه أن
النبي صلى الله عليه وسلم قال : « لا يزال الناس بخير ما عَجَّلوا الفطر»
متفق عليه
Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu anhu
bahwa Nabi shallallahu alaihi was sallam bersabda : senantiasa
muslimin berada dalam kebaikan selama mereka senantiasa menyegerakan
berbuka. Muttafaqun alaihi.
Dan merupakan suatu perkara yang
sunnah adalah berbuka dengan ruthob (jenis kurma yang belum terlalu
matang dan bersifat basah) dan jika tidak ada maka dengan kurma dan
jika tidak ada dengan air
لقول أنس رضي الله عنه : « كان
النبي صلى الله عليه وسلم يفطر قبل أن يصلي على رطبات ، فإن لم تكن
رطبات فتمرات ، فإن لم تكن تمرات حسا حسوات من ماء »رواه أحمد وأبو داود
والترمذي وإسناده حسن جدا
Sebagaimana perkataan Anas bin Malik
radhiyallahu anhu : “senantiasa Rasul shallallahu alaihi was sallam
berbuka dengan ruthob sebelum sholat maka jika tidak ada, dengan
kurma dan jika tidak ada, dia meneguk air dengan berapa tegukan”.
(riwayat Ahmad dan Abu Daud dan At Tirmidzi)
Dan diantaranya yaitu : memperbanyak
baca Al Quran dan dzikir dan sholat dan bersedekah serta berdoa.
Insyallah akan datang perinciannya dipermasalahan yang berikutnya.
Pembahasan yang kedelapan :
hal-hal yang membatalkan puasa ada beberapa point sebagai berikut :
1. Berjima yaitu bersetubuh
dengan memasukkan (maaf) dzakar ke kemaluan wanita, Dan ini yang
paling besar yang membatalkan Dan dosanya.
Dan jika melakukannya disiang hari
bulan ramadhan dalam keadaan puasa wajib baginya maka dia harus
membayar kafarah yang berat bersamaan dengan mengqodhonya, adapun
kafarahnya adalah membebaskan budak yang mukmin, jika tidak ada maka
berpuasa 2 bulan (**) berturut-turut (tidak boleh berbuka diantaranya
kecuali alasan syar’i ,jika dia berbuka tanpa alasan syar’i walaupun
sehari maka harus mengulang dari awal) dan jika tidak mampu maka
memberi makan 60 orang miskin.
2. Mengeluarkan mani dengan
keinginannya (bukan jima’) seperti berciuman atau berpelukan atau
istimna’ / onani dan selainnya karena semua ini merupakan hasil dari
syahwat yang mana orang berpuasa harus menjauhinya sebagaimana dalam
hadits qudsi
« يدع طعامه وشرابه وشهوته من
أجلي »رواه البخاري
Dia meninggalkan makan dan minumnya dan
syahwatnya karena Aku. (riwayat Bukhori)
Adapun berciuman dan berpelukan /
bercumbu tanpa orgasme maka itu tidak membatalkan
لحديث عائشة رضي الله عنها : «
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يُقَبِّل وهو صائم ويباشر وهو صائم
ولكنه كان أَمْلَكَكُمْ لإربه »متفق عليه
Sebagaimana dalam hadits Aisyah
radhiyallahu anha berkata : bahwa Nabi shallallahu alaihi was sallam
berciuman dan bercumbu dalam keadaan berpuasa akan tetapi
keberadaannya lebih bisa menahan syahwat dari pada kalian. Muttafaqun
alaihi.
وعن عمر بن أبي سلمة « أنه سأل النبي
صلى الله عليه وسلم : أيُقَبِّل الصائم ؟ فقال النبي صلى الله عليه وسلم
: ” سل هذه ” – يعني أم سلمة – , فأخبرته أن النبي صلى الله عليه وسلم
كان يصنع ذلك» رواه مسلم
Dari Umar bin Abi Salamah radhiyallahu
anhu bahwasanya dia bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi was
sallam apakah boleh bagi yang berpuasa berciuman ? Beliau shallallahu
alaihi was sallam menjawab : tanyakan kepadanya “yakni um salamah;”
kemudian dia mengabarkannya bahwa Nabi shallalllahu alaihi was sallam
melakukan hal tersebut”. (riwayat Muslim)
Namun jika dia khawatir atas
dirinya tidak mampu untuk menahan orgasme dengan berciuman dan
semisalnya atau sampai mengarah ke jima’ karena tidak mampunya dia
menahan gejolak syahwatnya maka pada saat itu berciuman dan bercumbu
haram baginya karena wasilah kepada yang haram maka dia itu haram
sebagaimana tersebutkan suatu kaidah, demikian yang dikatakan Syaikh
Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullahu ta’ala.
3. Makan dan minum.
Dan yang termasuk dalam makan dan minum
adalah apa yang dinamakan infus sebagaimana hal ini difatwakan oleh
para ulama.
4. Keluar darah haid
dan nifas
Pembahasan yang kesembilan :
amalan yang dianjurkan dibulan Ramadhan
1) Qiro’atul Qur’an karena
Ramadhan merupakan bulan yang diturunkannya Al Qur’an sehingga sudah
sepantasnya dan seharusnya bagi setiap muslim untuk membaca Al Qur’an
dan mengkhatamkannya/menamatkannya lebih dari sekali atau minimal
sekali dengan mentadabburinya dan mengambil faedah darinya karena ini
merupakan sunnah Rasul shallallahu alaihi was sallam sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu
anhu dan sekaligus anjuran beliau shallallahu alaihi was sallam
dibanyak haditsnya
قال صلى الله عليه وسلم : ” أوصيك
بتقوى الله تعالي، فإنه رأس كل شئ وعليك
بذكر الله تعالي وتلاوة القرآن، فإنه روحك في السماء وذكرك في الأرض “(
حسن – رواه أحمد عن أبي سعيد وحسنه الألباني في صحيح الجامع رقم 3543 )
Rasul shallallahu alaihi was sallam
bersabda : “aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah ta’ala
karena itu modal segala sesuatu dan atasmu untuk senantiasa
dzikrullah dan tilawatul qur’an karena itu adalah ruhmu di langit dan
dzikirmu dibumi” . (riwayat Ahmad dari Abi Sai’d dan dihasankan oleh
Albani rahimahullahu ta’ala)
. وقال صلى الله عليه وسلم : ”
من سره أن يحب الله ورسوله فلينظر في المصحف “( حسن رواه أبو نعيم في
الحلية والبيهقي في شعب الإيمان عن ابن مسعود وحسنه الألباني في صحيح
الجامع رقم 6289 ).
Dan bersabda
shallallahu alaihi was sallam : “siapa yang ingin dicintai oleh Allah
dan RasulNya maka lihatlah kedalam Al Qur’an.”. (riwayat Abu Nuaim dan
Baihaqi dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu dan dihasankan oleh Albani
rahimahumullahu jami’an)
وقال صلى الله عليه وسلم : ”
من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول (
ألم ) حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف ” ( رواه البخاري في التاريخ
والترمذي والحاكم عن ابن مسعود وصححه الألباني في صحيح الجامع رقم 6469
).
Dan bersabda shallallahu
alaihi was sallam : “siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran
maka baginya satu kebaikan dan kebaikan dilipatgandakan menjadi 10
kali, aku tidak katakan ( ألم ) satu huruf akan
tetapi alif huruf Dan lam huruf Dan mim huruf”. (riwayat Bukhori dan
Tirmidzi dan Hakim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu dan dishohihkan
oleh Albani rahimahullahu ta’ala)
Dan ini juga merupakan kebiasaan salaf
terkhusus dibulan Ramadhan sangat bersemangat dalam amalan yang satu
ini.
Berkata Ibnu Rajab rahimahullahu
ta’ala : keberadaan salaf senantiasa membaca alquran dibulan ramadhan
dalam sholat dan lainnya. Adalah Qatadah mengkhatamkan Al Quran
setiap 7 hari maka jika datang Ramadhan dia mengkhatamkan setiap 3
malam dan jika datang 10 malam terakhir dia mengkhatamkam setiap
malam. (الحلية 2/388 لطائف 191)
Dan An-Nakha’i mengkhatamkan Al Quran di
10 malam terakhir setiap malam dan selainnya setiap 10 hari ((
لطائف 191.
Dan berkata Rabi’ bin Sulaiman :
Muhammad bin Idris Asy Syafi’i mengkhatamkan Al Quran dibulan Ramadhan
sebanyak 60 kali semuanya itu didalam sholat.
Dan berkata Ibnu Abdil Ham :
keberadaan Malik jika datang bulan Ramadhan meninggalkan membaca
hadits dan majelis taklim, dan mengkhususkan membaca Al Quran.
Dan berkata Abdur Razaq : keberadaan
Sufyan Ats Tsauri jika datang Ramadhan meninggalkan seluruh ibadah
Dan mengkhususkan membaca Al Quran.
Semoga dengan atsar-atsar
ini membuat kita semua termotivasi untuk menghadapkan diri kepada
Al Quran dengan membacanya, menghafalnya dan
mentadabburinya serta mengamalkannya sehingga menjadi ahlu quran.
2) Sholat
tarawih dan qiyamul lail : ini merupakan dari perkara ibadah yang
sangat penting yang disyariatkan bagi setiap muslim untuk bersemangat
dalam menghidupkannya dibulan Ramadhan dan disyariatkan untuk berjamaah
dalam melakukannya.
Berkata Syaikh Albani rahimahullahu
ta’ala : disyariatkan berjamaah dalam sholat tarawih
dibulan Ramadhan bahkan itu lebih afdhol (yakni lebih banyak
mendapatkan pahala Dan keutamaan) daripada sholat sendiri karena
Rasul shallallahu alaihi was sallam melakukannya dengan berjamaah dan
menjelaskan tentang keutamaannya sebagaimana yang diriwayatkan oleh
Ashabu Sunan dari Abi Dzar radhiyallahu anhu Rasul shallallahu alaihi
was sallam bersabda :
” إن الرجل إذا صلى مع الامام حتى ينصرف
حسب له قيام ليلة “( قيام رمضان للألباني وقال ( قيام رمضان للألباني
وقال صحيح أخرجه أصحاب السنن راجع صحيح
أبي داود 1245 والإرواء 447 ).
Bahwa seseorang jika dia sholat bersama
imam sampai selesai (imam) maka ditulis baginya qiyamul lail semalaman.(
قيام رمضان للألباني وقال صحيح أخرجه أصحاب السنن راجع صحيح أبي داود 1245
والإرواء 447 ).
Berkata syaikh Muhammad bin Utsaimin
rahimahullahu ta’ala : tidak sepantasnya bagi seseorang untuk tidak
menghadiri sholat tarawih demi untuk mendapatkan pahala dan
keutamaannya dan begitu pula jangan dia berhenti darinya
sampai imam selesai dari tarawih tersebut beserta sholat witirnya
supaya dicatat mendapatkan pahala melakukan qiyamul lail semalam
penuh dan boleh bagi wanita untuk menghadiri tarawih jika
aman fitnah bagi dirinya dan selain dia akan tetapi wajib baginya
untuk memakai hijab yang menutupi auratnya dengan tanpa tabarruj dan
memakai wewangian dan tidak mengangkat suaranya serta menampakkan
perhiasannya. (Majelis Ramadhan hal : 9)
Berkata syaikh Muhammad bin Ibrohim
Alu Syaikh rahimahullahu ta’ala : dengan hadits ini (hadits abu dzar)
Imam Ahmad (***) dan selainnya berhujjah dengannya bahwa sholat
tarawih dengan berjamaah lebih afdhol daripada dikerjakan sendiri.
Dan dalam sabdanya tersebut anjuran untuk menghidupkan bulan Ramadhan
dibelakang imam dan ini sangat ditekankan daripada maknanya sunnah.
Dan kebedaraan manusia/sahabat pada saat itu berjamaah dimesjid pada
zaman Rasul shallallahu alaihi was sallam dan Beliau tidak
mengingkarinya dan persetujuan beliau teranggap bagian dari sunnahnya.
(fatawa wa rasail Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh 3/54)
Dan jika sudah selesai sholat witir
mengucapkan doa dengan mengatakan :
سبحان الملك القدوس، سبحان الملك
القدوس سبحان الملك القدوس
Dibaca 3 kali dengan dipanjangkan
suaranya dan dikeraskan suaranya yang ketiga
( صحيح أبي داود 1284 والنسائي
3/244 وأحمد 5/123 ).
Permasalahan :
- Kapan waktunya sholat tarawih tersebut ?
Jawabannya : dari semenjak
selesai sholat Isya’ sampai terbit fajar subuh sebagaimana yang
dikatakan oleh ahlu ilmi,
قال النووي في “المجموع” (3/526) :” يدخل
وقت التراويح بالفراغ من صلاة العشاء ، ذكره البغوي وغيره، ويبقى إلى طلوع
الفجر ” انتهى .
Berkata Imam Nawawi rahimahullah ta’ala :
masuknya waktu sholat tarawih semenjak selesai sholat Isya’, begitu
pula ini disebutkan oleh Al Baghawi dan selainnya, dan berakhir sampai
terbitnya fajar. (al-majmu’ 3/526).
وقال الشيخ ابن عثيمين :” وقتها – يعني
التراويح – من بعد صلاة العشاء ، إلى طلوع الفجر” انتهى . “مجموع فتاوى ابن
عثيمين” (14/210)
Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin
rahimahullahu ta’ala : waktunya –yakni tarawih- dari selesai sholat
Isya’ sampai terbir fajar . (majmu’u fatawa 210/14).
Adapun yang paling afdhol
dalam melakukannya adalah di akhir malam sebagaimana hal ini
jelaskan ahlu ilmi diantaranya Imam Ahmad rahimahullah ta’ala seperti
yang dinukilkan oleh Imam Ibnu Qoyyim rahimahullahu ta’ala di badai’ul
fawaid
فعنه إن أخروا القيام إلى آخر الليل
فلا بأس به كما قال عمر فإن الساعة التي تنامون عنا أفضل ولأنه يحصل
قيام بعد رقدة وقال الله تعالى إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ
أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
Jika mereka mengakhirkan sampai
diakhir malam maka tidak apa-apa sebagaimana perkataan Umar
radhiyallahu anhu : sesungguhnya waktu yang kalian tidur adalah lebih
afdhol (untuk tarawih), dan karena itu dilakukan setelah tidur dan
juga Allah ta’ala berfirman : 6. Sesungguhnya bangun di waktu malam
adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih
berkesan. (badai’ul fawaid)
Dan begitu pula Syaikhul Islam
rahimahullahu ta’ala mengatakan demikian :
قال شيخ الإسلام ابن تيمية: الْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، السُّنَّةُ فِي التَّرَاوِيحِ أَنْ
تُصَلَّى بَعْدَ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ كَمَا اتَّفَقَ عَلَى ذَلِكَ
السَّلَفُ
وَالْأَئِمَّةُ فَمَا كَانَ
الْأَئِمَّةُ يُصَلُّونَهَا إلَّا بَعْدَ الْعِشَاءِ عَلَى عَهْدِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَهْدِ خُلَفَائِهِ
الرَّاشِدِينَ وَعَلَى ذَلِكَ أَئِمَّةُ
الْمُسْلِمِينَ لَا يُعْرَفُ عَنْ
أَحَدٍ أَنَّهُ تَعَمَّدَ صَلَاتَهَا قَبْلَ الْعِشَاءِ فَإِنَّ هَذِهِ
تُسَمَّى قِيَامَ رَمَضَانَ). مجموع الفتاوى (23/119-123)(
Alhamdulillah Rabbil ‘alamin : yang
sunnah dalam melaksanakan tarawih adalah dengan melaksanakannya
setelah akhir waktu Isya (tengah malam) sebagaimana ini kesepakatan
salaf dan para aimmah, maka tidak pernah para aimmah melakukannya
(sebelum isya) kecuali setelah Isya’ pada zaman Rasulullah
shallallahu alaihi was sallam dan khulafau rasyidin dan demikian pula
para aimmah kaum muslimin tidak diketahui dari seorang pun dari mereka
bahwa sengaja melakukannya sebelum Isya’, maka sesungguhnya ini
(sholat tarawih) dinamakan qiyama Ramadhan. (majmu’ul fatawa)
Dan juga disebutkan dalam kitab القول
الراجح مع الدليل (3/82)
س112: ما هو وقت الاستحباب بالنسبة لصلاة
التراويح؟
ج الشيخ خالد بن ابراهيم الصقعبي
/ الأقرب في ذلك أن الأفضل أن تكون في
آخر الليل إذ هو وقت نزول الرب عز وجل, وقوله سبحانه وتعالى: هل من
سائل؟ هل من مستغفر؟ هل من تائب؟ لكن بما أن الجماعة تشرع لصلاة
التراويح فيراعى أحوال المأمومين, فإن شق آخره فُعلت أوله, أما العشر
الأواخر فيستحب إحياؤها بالعبادة, لحديث عائشة رضي الله عنها قالت { كان
رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إذا دخل العشر الأواخر من رمضان أحيا
الليل كله وأيقظ أهله وجد وشد المئزر ( فينبغي مد العبادة في العشر
الأواخر إلى آخر الليل, أو القيام آخره.
- Pertanyaan : kapan waktu yang mustahab untuk sholat tarawih ?
Syaikh Kholid bin Ibrohim
Ash Sho’qobii menjawab : yang benar tentang permasalahan ini
bahwa yang afdhol keberadaannya diakhir malam yakni ketika Allah
azza wa jalla turun kelangit dunia, Dan Dia berfirman : adakah yang
meminta? Adakah yang beristighfar ? Adakah yang bertaubat ? Akan
tetapi diperhatikan keadaan jamaah dalam melakukan sholat tarawih
sehingga dilihat keadaan makmum, jika memberatkan mereka maka dilakukan
diawal malam, adapun disepuluh malam terakhir (bulan Ramadhan) maka
disunnahkan untuk menghidupkannya dengan ibadah, seperti tersebutkan
dalam hadits Aisyah radhiyallahu anha berkata : keberadaan Rasulullah
shallallahu alaihi was sallam jika masuk 10 malam terakhir bulan
Ramadhan dia menghidupkan malam seluruhnya dan membangunkan keluarganya
dan bersemangat dan menguatkan tali sarungnya sehingga seharusnya
memperpanjangkan ibadah di 10 malam terakhir sampai diakhir malam atau
melakukannya diakhir malam tersebut.
- Pertanyaan : Apa hukumnya qunut dalam witir
?
Jawabannya : adalah perkara sunnah dan mustahab
demikianlah yang dikatakan oleh para ulama bahkan disyariatkan bagi
makmum untuk mengaminkan doa imam.
حكم دعاء القنوت في التراويح
س: ما حكم قراءة دعاء القنوت في الوتر في
ليالي رمضان، وهل يجوز تركه؟
ج: القنوت سنة في الوتر، وإذا تركه في
بعض الأحيان فلا بأس.(مجموع الفتاوى 30/ 32)لفضيلة الشيخ ابن باز رحمه الله
تعالى.
- Pertanyaaan : apa hukum membaca doa qunut dalam witir
dimalam-malam Ramadhan, apakah boleh meninggalkannya ?
Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu
ta’ala menjawab : qunut adalah sunnah dalam witir dan jika
terkadang dia meninggalkannnya maka hal itu tidak mengapa. (majmu’ul
fatawa 30/32)
س: يستمر بعض الأئمة في القنوت في الوتر
كل ليلة، فهل أثر هذا عن سلفنا؟
ج: لا حرج في ذلك، بل هو سنة؛ لأن
النبي صلى الله عليه وسلم لما علم الحسن بن علي رضي الله عنهما القنوت
في الوتر لم يأمر بتركه بعض الأحيان ولا بالمداومة عليه، فدل ذلك على
جواز الأمرين، ولهذا ثبت عن أبي بن كعب رضي الله عنه حين كان يصلي
بالصحابة رضي الله عنهم في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه كان
يترك القنوت بعض الليالي ولعل ذلك ليعلم الناس أنه ليس بواجب. والله ولي
التوفيق. .(مجموع الفتاوى 30/33)لفضيلة الشيخ ابن باز رحمه الله تعالى
Sebagian imam mesjid terus membaca doa
qunut dalam witir disetiap malam, maka apakah ini ada atsarnya dari
salaf ?
Beliau menjawab : tidak mengapa
demikian bahkan itu sunnah karena Nabi shallallahu alaihi was sallam
tatkala mengajari Hasan bin Ali radhiyallahu anhuma qunut dalam witir
Dia tidak memerintahkan untuk meninggalkannya diwaktu tertentu dan
tidak pula untuk terus membacanya, maka ini menunjukkan
tentang bolehnya ke-2 perkara tersebut, dan sebab ini
telah tsabit dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu anhu tatkala dia
mengimami para sahabat radhiyallahu anhum di mesjid Rasul shallallahu
alaihi was sallam bahwasanya dia kadang disuatu malam tidak
membacanya dan boleh jadi hal ini dia melakukannya untuk mengajarkan
pada manusia bahwa itu bukan perkara wajib. Wallahu waliyyut taufiq.
(majmu’ul fatawa 30/33)
قال اللجنة الدائمة : أما القنوت في
الوتر فمستحب لحديث الحسن بن علي رضي الله عنهما قال: « علمني رسول الله
صلى الله عليه وسلم كلمات أقولهن في قنوت الوتر: اللهم اهدني فيمن هديت
وعافني فيمن عافيت وتولني فيمن توليت وبارك لي فيما أعطيت وقني شر ما
قضيت فإنك تقضي ولا يقضى عليك وإنه لا يذل من واليت تباركت ربنا وتعاليت
»رواه الخمسة. وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه
وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس
عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي …
عبد العزيز بن عبد الله بن باز
(فتاوى اللجنة الدائمة 7/170)
Berkata lajnah daimah : adapun qunut
dalam witir adalah mustahab dengan hadits Hasan bin Ali radhiyallahu
anhu berkata : Rasulullah shallallahu alaihi was sallam beberapa
kalimat yang aku katakan didalam qunut witir :
اللهم اهدني فيمن هديت وعافني فيمن عافيت
وتولني فيمن توليت وبارك لي فيما أعطيت وقني شر ما قضيت
فإنك تقضي ولا يقضى عليك وإنه لا يذل من
واليت تباركت ربنا وتعاليت.
Diriwayatkan oleh ashabul sunan.
(fatawa lajnah daimah 7/170)
أ: الصحيح أن الأفضل أن يكون دعاء القنوت
في الوتر بعد الركوع لا قبله؛ لكثرة الأحاديث الصحيحة الواردة في ذلك.
ب: يدعو المصلي في القنوت بما ورد من
الأدعية وبغير ما ورد، مما يحتاجه في دينه ودنياه.
جـ: يؤمن المأموم على دعاء الإمام، ويثني
على الله ويسبحه إذا أثنى إمامه على الله أو ينصت.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … نائب الرئيس … الرئيس
عبد الله بن قعود … عبد الرزاق عفيفي …
عبد العزيز بن عبد الله بن باز
(فتاوى اللجنة الدائمة 7/185)
a. Yang benar bahwa yang
afhdhol keberadaan doa qunut witir adalah setelah ruku’ bukan
sebelumnya, karena banyaknya hadits yang shohih yang menjelaskan hal
ini.
b. Orang shalat berdoa dalam
witirnya dengan dengan doa witir dan selainnya yang yang telah tetap
dari dalil, dari apa-apa yang dia butuhkan dari urusan agama dan
dunianya.
c. Makmum mengaminkan doa imamnya
dan memuji Allah dan mensucikannya jika imam memujinya atau dia (makmum)
diam.
( lajnah daimah 7/185)
قال فضيلة الشيخ – جزاه الله عن
والمسلمين خير الجزاء -:
وأما القنوت في الوتر فليس بواجب، والذي
ينبغي للإنسان أن لا يداوم عليه؛ بل يقنت أحياناً، ويترك أحياناً.
وأما مسح الوجه باليدين بعد الدعاء
فمن العلماء من قال: إنه بدعة؛ لأن الأحاديث الواردة فيه ضعيفة(2)، كشيخ
الإسلام بن تيميه – رحمه الله – فإنه يقول للداعي إذا انتهى من دعائه
ولو كان رافعاً يديه لا يمسح بيديه؛ لأن الأحاديث الواردة بهذا ضعيفة.
والأحاديث الصحيحة الواردة عن النبي عليه الصلاة والسلام في دعائه أنه
إذا رفع يديه فإنه لا يمسح بها وجهه صلى الله عليه وسلم.
ومن العلماء من قال: إن المسح سنة بناء
على أن الأحاديث الضعيفة إذا تكاثرت قوى بعضها بعضاً.
والذي أراه أن مسح الوجه بعد الدعاء ليس
بسنة؛ لكن من مسح فلا ينكر عليه، ومن ترك فلا ينكر عليه.
( مجموع الفتاوى والرسائل للشيخ ابن
عثيمين رحمه الله تعالى 14/98)
Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin
rahimahullahu ta’ala : adapun qunut witir tidaklah wajib, dan yang
seharusnya bagi seseorang adalah jangan melakukan terus-menerus,
bahkan kadang lakukan dan kadang tidak.
Dan adapun mengusap wajah dengan ke-2
tangan setelah berdoa maka sebagian ulama mengatakan : adalah bid’ah
karena hadits-hadits yang menunjukkan tentangnya dho’if, seperti
syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala mengatakan jika
seorang berhenti dari doanya jika dia mengangkat 2 tangannya jangan
dia mengusap wajahnya karena hadits-hadits yang tentang ini adalah
dho’if. Tapi hadits-hadits yang shohih menunjukkan bahwa Nabi
shallallahu alaihi was sallam jika dia mengangkat ke-2 tangannya ketika
berdoa dia tidak mengusap wajahnya dengannya.
Dan diantara ulama mengatakan bahwa
mengusap wajah adalah sunnah berdalil dengan hadits-hadits dhoif jika
banyak jalannya akan saling menguatkan.
Dan yang aku memandangnya bahwa
mengusap wajah setelah berdoa bukanlah sunnah, tetapi siapa yang
mengusap tidak diingkari dan siapa yang meninggalkannya tidak
diingkari pula. (majmu’ul fatawa wal rasail 14/98)
3) Banyak bersedekah dibulan
tersebut
قال الشيخ ابن العثيمين رحمه الله
تعالى :الصدقة في رمضان صدقة في زمن فاضل، وكان النبي صلى الله عليه
وسلم أجود الناس، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل فيدارسه
القرآن.وأفضل ما تكون الصدقة على المحتاجين إليها، وما كان أنفع لهم فهو
أفضل، ومن المعلوم أن الناس اليوم يفضلون الدراهم على الطعام، لأن
المحتاج إذا أعطي الدراهم تصرف فيها حسبما تقتضيه حاجته من طعام، أو
لباس، أو وفاء غريم أو غير ذلك، فيكون صرف الدراهم للمحتاجين في هذه
الحال أفضل من صنع الطعام ودعوتهم إليه. ( مجموع الفتاوى والرسائل للشيخ
ابن عثيمين رحمه الله تعالى17/155)
Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin
rahimahullahu ta’ala : bersedekah dibulan Ramadhan merupakan sedekah
diwaktu yang mulia, dan keberadaan Nabi shallallahu alaihi was sallam
manusia paling dermawan,dan dia paling dermawan adalah dibulan
Ramadhan yang mana saat itu Jibril datang menemuinya kemudian dia
belajar Al Quran darinya. Dan sedekah yang paling afdhol kepada siapa
yang membutuhkannya , dan siapa yang yang lebih membutuhkan maka itu
adalah yang paling afdhol, dan sudah menjadi perkara yang maklum
bahwa manusia pada saat sekarang ini lebih mengutamakan bersedekah
dengan uang daripada makanan, karena yang membutuhkan (sedekah itu)
jika diberikan uang dia bisa menggunakannya sesuai dengan kebutuhan
yang dia inginkan berupa makanan atau pakaian atau membayar utang
atau yang lainnya, sehingga bersedekah dengan uang pada saat sekarang
ini kepada yang membutuhkan lebih afdhol/utama daripada makanan.
(majmu’ul fatawa 17/155)
قال الشيخ الفوزان حفظه الله تعالى
:الصدقة في رمضان أفضل من الصدقة في غيره؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم
سماه شهر المواساة .وكان صلى الله عليه وسلم أجود ما يكون في شهر رمضان
حين يلقاه جبريل في رمضان، كان أجود بالخير من الريح المرسلة (المنتقى
من فتاوى الفوزان 51/26)
Berkata Syaikh Al Fauzan hafizhahullahu
ta’ala : bersedekah dibulan Ramadhan lebih afdhol daripada sedekah
dibulan lainnya karena seseungguhnya Nabi shallallahu alaihi was
sallam menamakan bulan tersebut dengan bulan muwaasaah (yakni :
menyamakan saudaranya seiman seperti keadaannya dalam manfaat dan
lainnya, ini ibarat yang menunjukkan puncaknya ukhuwah islamiyah –
lihat at-ta’rifat 1/729-pent-). Dan keberadaan Rasul
shallallahu alaihi was sallam lebih dermawan dibulan ramadhan (yang
bulan tersebut) Jibril datang menemuinya, sungguh keberadaannya
sangat dermawan dengan kebaikan dari pengutusan
kerasulannya.(al-muntaqa 51/26)
عن ابن عباس قال : كان رسول الله –
صلى الله عليه وسلم – أجود الناس وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه
جبريل وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيدارسه القرآن فلرسول الله – صلى
الله عليه وسلم – أجود بالخير من الريح المرسلة . البخاري (6) ومسلم
(2308)
قال النووي : وفي هذا الحديث فوائد
منها بيان عظم جوده – صلى الله عليه وسلم – ومنها استحباب إكثار الجود
في رمضان . اهـ ( شرح النووي على صحيح مسلم ج:15 ص:69 ) والله أعلم
Dan keberadaan Nabi shallallahu
alaihi was sallam manusia paling dermawan, dan dia paling dermawan
adalah dibulan Ramadhan yang mana saat itu Jibril datang menemuinya dan
dia menemuinya disetiap malam dibulan ramadhan kemudian dia belajar
Al Quran darinya, sungguh keberadaannya sangat dermawan dengan
kebaikan dari pengutusan kerasulannya. Riwayat bukhori dan Muslim
dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma.
Berkata Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala
: Dan dihadits ini banyak faedah yang bisa diambil diantaranya ;
keterangan yang jelas tentang besarnya kedermawaan Rasul shallallahu
alaihi was sallam, dan diantaranya : disunnahkan untuk memberbanyak
(sifat) dermawan dibulan ramadhan .(syarah shohih muslim 15/69).
وقال ابن رجب الحنبلي : وكان جودُه أي
صلى الله عليه وسلم بجميع أنواع الجود، من بذل العلم والمال وبذل نفسه
لله تعالي في إظهار دينه وهداية عباده وإيصال النفع إليهم بكل طريق، من
إطعام جائعهم ووعظ جاهلهم وقضاء حوائجهم، وتحمل أثقالهم ( لطائف المعارف
ص 306 ).
Berkata Ibnu Rajab Al Hanbaly
rahimahullahu ta’ala : kedermawanan Rasul shallallahu alaihi was
sallam dengan semua macamnya, dari berupa ilmu dan harta dan jiwanya
demi Allah ta’ala untuk menampakkan agamanya dan memberikan petunjuk
hambaNya dan memberikan manfaat kepada mereka dengan segala
bentuknya, seperti memberi makan bagi yang lapar dan menasehati yang
jahil dan (membantu) meringankan beban mereka (latha’if
al-ma’arif hal : 306)
وقال ابن رجب : وكان جوده صلى الله
عليه وسلم يتضاعف في شهر رمضان على غيره من الشهور كما أن جود ربه
يتضاعف فيه أيضاً، فإن الله جبله على ما يحبه من الأخلاق الكريمة وكان
على ذلك من قبل البعثة.
Dan berkata pula : kedermawanan Rasul
shallallahu alaihi was sallam berlipat ganda dibulan Ramadhan dari
selain bulan tersebut sebagaimana Rabbnya pun berlipat ganda
kedermawananNya dibulan tersebut, karena sesungguhnya Allah ta’ala
memberikan kepadanya asal kepribadiannya dengan apa yang Dia (Allah)
cintai berupa akhlak yang mulia dan itu ada pada dirinya sebelum
diutus sebagai Nabi.
Semoga Allah ta’ala
memberikan kita semua taufiq dan hidayahNya sehingga kita bisa
mengamalkan amalan-amalan yang dianjurkan dibulan yang Mubarak ini dan
memperbanyaknya sehingga kita termasuk hambaNya yang keluar dari
bulan ini dalam keadaan diampuni dan dirahmati serta dibebaskan dari
neraka dan adzabNya- Ya Allah kami sangat takut dengan adzab dan
neraka Engkau maka jauhkanlah kami darinya sesungguhnya Engkau Maha
Mendengar dan Mengabulkan doa- Amiin Ya Rabbal Alamiin.
Pembahasan yang kesepuluh :
10 malam terakhir dan malam lailatul qadr
Wahai saudaraku seiman diantaranya
kenikmatan Allah ta’ala yang besar kepada hambaNya terkhusus bagi
kaum mukminin adalah 10 malam terakhir dibulan Ramadhan yang mana penuh
dengan segala kebaikan dan pahala yang besar serta
keutamaan-keutamaan yang agung, dan diantara keutamaannya adalah
sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama diantara mereka :
Fadhilatusy syaikh Ibnu Utsaimin
rahimahullahu ta’ala, beliau berkata : diantara kekhususan 10 malam
terakhir itu bahwa Nabi shallallahu alaihi was sallam sungguh
bersemangat lebih banyak dari malam-malam sebelumnya dan ini meliputi
kesungguhan disegala aspek ibadah berupa sholat dan quran dan dzikir
dan bersedekah dan selainnya dan karena sesungguhya Beliau menguatkan
tali sarungnya yang maksudnya dia tidak mendatangi istri-istrinya
kecuali untuk tujuan sholat dan dzikir, dan juga dia menghidupkan
malam tersebut dengan qiyamul lail dan qiroah dan dzikir dengan hati
dan lisannya dan anggota tubuhnya karena kemuliaan malam-malam
tersebut dan untuk mendapatkan malam lailatul qadar yang siapa
menghidupkannya dengan keimanan dan ihtisaban maka akan diampuni
segala dosanya yang telah lewat.
Dan beliau menambahkan : Dan yang
menunjukkan pula tentang keutamaan 10 malam terakhir bahwasanya Rasul
shallallau alaihi was sallam membangunkan keluarganya untuk sholat
dan dzikir (karena) semangat untuk mengumpulkan kebaikan yang
berbarakah yang sangat jarang itu dengan beribadah sebab itu sesuai
dengan kesempatan umur bagi siapa yang diberikan taufiq oleh Allah
ta’ala.
Berkata Ibnu Hajar rahimahullahu ta’ala
dalam fathul bari 4/270 : (ketika mensyarah hadits jika masuk 10
malam terakhir..) dihadits menunjukkan semangat untuk senantiasa
menghidupkan 10 malam terakhir adalah merupakan isyarat berupa
anjuran dalam membekali diri dalam menghadapi sakaratul maut semoga
Allah ta’ala menutup kehidupan kita dengan kebaikan Amiin.)
Lailatul qadr :
A. keutamaannya
1) Allah ta’ala menurunkan
dimalam tersebut Al-quran yang itu adalah petunjuk bagi manusia dan
kebahagiaan mereka didunia dan akhirat.
2) Bahwa malam itu lebih baik
dari 1000 bulan atau 83 tahun 4 bulan, dengan dalil hadits Anas
radhiyallahu anhu berkata : telah datang Ramadhan kemudian Rasul
shallallahu alaihi was sallam
فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم “إن
هذا الشهر قد حضركم, وفيه ليلة خير من ألف شهر من حرمها فقد حرم الخير
كله ولا يحرم خيرها إلا محروم” (حسن رواه ابن ماجه وحسنه الألباني في
صحيح الترغيب 1/418)
Bulan ini telah mendatangi kalian,
dan didalamnya ada malam yang lebih baik dari 1000 bulan, siapa yang
terhalangi dari kebaikan / keberkahan malam itu maka sungguh dia
terhalangi dari kebaikan seluruhnya, dan tidaklah terhalangi dari
kebaikan kecuali orang yang sangat merugi. (riwayat Ibnu Majah dan
dihasankan oleh Albani rahimahullahu ta’ala)
3) Bahwa para malaikat turun
dimalam tersebut dan mereka tidaklah turun kecuali dengan kebaikan dan
barakah dan rahmah.
4) Adalah malam keselamatan karena
banyaknya yang selamat didalamnya dari hukuman dan adzab dengan ketaatan
yang dilakukan hambaNya.
5) Bahwasanya Allah ta’ala
menurunkan keutamaannya dengan satu surat yang sempurna yang dibaca
sampai hari kiamat.
6) Disunnahkan untuk berdoa dan
memperbanyak doa dimalam tersebut
Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata :
aku bertanya Ya Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bagaimana
pendapatmu jika aku mendapatkan malam laitul qadr apa yang musti aku
ucapkan ?
قال :”قولي اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف
عني” (رواه أحمد 6/171 والترمذي 9/495 وابن ماجه 3850 وهو صحيح).
Beliau berkata : katakanlah اللهم
إنك عفو تحب العفو فاعف عني
7) Alamat-alamatnya
Rasulullah shallallahu alaihi was sallam
memberikan alamat malam tersebut supaya setiap muslim mengetahuinya :
a. Dalam shohih Muslim, Nabi
shallallahu alaihi was sallam mengabarkan diantara alamatnya bahwa
matahari terbit cerah tanpa ada rasa silau dalam melihatnaya.
b. Dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhu yang diriwayatkan Ibnu
Khuzaimah dan Thoyalisi dalam musnadnya dengan sanad yang shohih bahwa
Nabi berkata : lailatul qadr malam yang cerah / sejuk, tidak ada panas
dan dingin, matahari terbit dengan cahaya yang merah tapi lemah (tidak
menyilaukan).
c. Yang riwayatkan oleh Thabrani dengan sanad yang hasan dari hadits
watsilah bin Asqa’ radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi was
sallam berkata malam lailatul qadr adalah malam yang cerah, tidak panas
dan tidak pula dingin…wallahu a’lam
Pembahasan yang kesebelas :
zakat fitri
Di penghujung Ramadhan wajib bagi
seorang muslim membayar Zakat Fitri sebelum dilaksanakan sholat I’ed dan
didalamnya beberapa permasalahan yang perlu diketahui :
1. Hukumnya
Adalah wajib Rasul shallallahu alaihi
was sallam mewajibkannya kepada kaum muslimin sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Bukhori dan muslim dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas
radhiyallahu anhum oleh Abu Daud dan An Nasa’i rahimahumullahu ta’ala.
2. Kepada siapa diwajibkan
Diwajibkan kepada anak kecil dan besar,
laki-laki maupun wanita, budak ataukah merdeka dari kalangan kaum
muslimin.
Dan tidak wajib bagi wanita yang hamil
untuk mengeluarkan zakat janin diperutnya kecuali jika untuk bersedekah
dengannya maka tidak apa, karena Utsman Amirul mukminin dia mengeluarkan
zakat wanita hamil.
Dan demikian pula wajib mengeluarkan
untuk dirinya dan demikian pula siapa yang menjadi tanggungannya seperti
istrinya atau kerabatnya.
3. Hikmahnya
Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin
rahimahullahu ta’ala : adapun hikmahnya sangat jelas sekali yakni untuk
berbuat baik kepada faqir miskin dan mencegah dari mengemis di hari-hari
I’ed sehingga mereka bisa bergabung bersama-sama dengan orang kaya
dalam kebahagiaan dan kesenangan sehingga merupakan hari raya bagi
seluruhnya, dan juga sebagai bentuk rasa kebersamaan dan ukhuwah dengan
akhlak yang mulia, dan juga untuk mensucikan bagi yang berpuasa dari apa
yang dilakukan berupa kejelekan,perbuatan sia-sia dan dosa, dan juga
untuk menampakkan rasa syukur kepada nikmat Allah ta’ala kepada dia yang
telah menyempurnakan puasa Ramadhan dan menghidupakannya dan melakukan
apa yang dimudahkan dalam melaksanakan amal sholeh. (MajelisRamadhan hal
: 137)
4. Dengan apa kita mengeluarkan
zakat tersebut
Dikeluarkan zakat fitri berupa 1sho
dari gandum atau kurma atau kismis atau makanan disetiap negeri seperti
beras atau tepung dan lainnya dari makanan pokok suatu negeri
sebagaimana ini difatwakan oleh para ulama seperti lajnah daimah.
Syaikh Abdullah Al Bassam rahimahullahu
ta’ala berkata dalam Taudihul Ahkam Syarah Bulughul Maram 3/78 : kadar 1
sho sebanding dengan 2,5 kilo atau 2500 gram.
5. Kepada siapa dikeluarkan
Seharusnya diberikan kepada yang berhak
saja mendapatkannya dari kalangan fuqara dan masakin seperti yang
disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma yang diriwayatkan
oleh Bukhori dan Muslilm dan ini yang pendapat yang benar yang
dirojihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala
sebagaimana dalam fatawa 25/71-78 dan muridnya Ibnu Qoyyim rahimahullahu
ta’ala di Zaadul Ma’ad 2/44. Dan tidak ada disana dalil yang jelas yang
disebutkan oleh sebagian ahlu ilmi yang membolehkan menyalurkan zakat
fitri ini kepada 8 golongan yang disebutkan dalam surah At Taubah.
6. Waktunya
Kewajiban zakat fitri yaitu semenjak
terbenamnya matahari dimalam I’ed fitri
Dan waktu untuk menyalurkan ada 2 waktu :
waktu yang afdhol dan waktu yang boleh
Adapun waktu yang afdhol adalah pagi
hari sebelum sholat I’ed
Adapun waktu yang boleh adalah sehari
atau 2 hari sebelum I’ed sebagaimana dalam haditsIbnu Umar radhiyallahu
anhuma yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Nasa’i dan dihasankan Albani
dalam irwa’u 3/332.
7. Apakah boleh mengeluarkan
dengan bentuk uang ?
Tidak sah dengan memakai uang karena itu
menyelisihi sunnah Rasul shallallahu alaihi was sallam padahal pada
zaman beliau ada uang Dan juga menyelisihi
amalan para sahabat sehingga hal ini teranggap perkara yang baru yang
tertolak dan tidak diterima dengan dalil
قوله صلى الله عليه وسلم :” من عمل عملاً
ليس عليه أمرنا فهو رد”, وفي رواية من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو
رد” (رواه مسلم).
Berkata Rasul shallallahu alaihi was
sallam : siapa yang melakukan amalan yang tidak kami melakukannya maka
itu tertolak. Riwayat Muslim dari Aisyah radhiyallahu anha. Demikian
yang dikatakan oleh ahlu ilmi seperti lajnah daimah dan Syaikh Ibnu
Utsaimin dan Syaikh Albani dan Syaikh Muqbil rahimahullahu jami’an dan
para ulama yang lainnya… Wallahu a’lam bi showab.
Dan sampai disini akhir dari apa yang
mampu kami kumpulkan dalam artikel yang sederhana ini dan sungguh saya
telah berusaha semaksimal mungkin dalam penyusunan pembahasan ini untuk
memudahkan dan membantu dalam memahami dengan baik bagi ikhwan dan
akhwat tentang permasalahan agama mereka terkhusus apa yang berkaitan
dengan Ramadhan.
Dan jika saya benar maka itu semua dari
Allah semata – dan bagi Dia segala puja dan puji- dan jika saya salah
maka itu dari diri saya pribadi dan syeithan dan saya meminta ampun dan
bertaubat kepada-Nya.
Dan hanya kepada Allah-lah aku meminta
semoga artikel ini bermanfaat bagi Islam dan kaum Muslimin, dan semoga
pula amalan ini ikhlas karena mengharapkan rahmat dan keridhoanNya dan
sebagai tambahan kebaikan kami ditimbangan kelak dihari yang tidak
bermanfaat harta dan keturunan kecuali keikhlasan dan
ketaatan…sesungguhnya Dia Maha kuasa atas segala sesuatu dan
Alhamdulillahi Rabbil A’lamin dan shalawat dan salaam serta keberkahan
atas Nabi kita Muhammad Dan keluarganya Dan sahabatnya seluruhnya.
Referensensi :
1. Al Quran
2. Shohih Bukhori
3. Shohih Muslim
4. Syarah Umdatul ahkam syaikh zaid al-washobi
5. Majmu’u syarhu muhadzdzab imam nawawi
6. Fatawa lajnah daimah
7. Fatawa Ibnu Baz
8. Fatawa Ibnu Utsaimin
9. Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
10. Majelis Ramadhan Syaikh Ibnu Utsaimin
11. Dan lainnya dari kutub ahlu ilmi
سبحناك اللهم وبحمدك أشهد أن لا
إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
Ditulis oleh Abu Aisyah Asnur
bin Badruddin semoga Allah ta’ala mengampuninya
Malam ahad bertetapan dengan 29 sya’ban 1432H
Manukan Wasono Surabaya Jawa Timur.
Alhamdulillahi rabbil alamiin.
Catatan edisi revisi :
1. Malzamah ini telah mengalami
perbaikan dan perubahan pada beberapa tempat dengan petunjuk,
sepengetahuan dan persetujuan dari penulis (Abu Aisyah Asnur bin
Badruddin semoga Allah ta’ala mengampuninya).
2. Diharapkan kepada semua pihak yang
telah membaca dan men-download malzamah ini sebelum adanya revisi untuk
memperhatikan perubahan yang terjadi dan men-download ulang.
3. Tempat-tempat perubahan pada
malzamah ini adalah sebagai berikut :
(*) Pada malzamah sebelumnya tertulis
“terbitnya matahari” pada edisi revisi ini “terbitnya fajar shodiq”
(**) Pada malzamah sebelumnya tertulis
“berpuasa berturut-turut” pada edisi revisi ini “berpuasa 2 bulan
berturut-turut”
(***) Pada malzamah sebelumnya
“Imam…(tanpa ada penyebutan nama)” pada edisi revisi ini “Imam Ahmad”